Mempersoalkan Loyalitas

7 March, 2013 § 2 Comments

[penyangkalan] tulisan berikut akan banyak berisi caci maki, jika anda memiliki sakit jantung, serangan impotensi, gangguan kehamilan dan janin, alangkah bijaknya jika anda berhenti merokok dan perbanyak minum air putih.


Ada beberapa orang yang saya kenal baik, kenal biasa, tidak kenal sama sekali dan entah siapa. Sepengalaman saya, orang yang saya kenal baik yang notabene sudah tahu dan paham tipikal saya dalam bekerja hukumnya haram mempersoalkan loyalitas  saya. Mendiang bapak saya memberi wejangan bahwa : “Di manapun dirimu bekerja, di situlah dirimu mengabdi”. Mendiang bapak saya tidak sekedar asal ucap, beliau sudah membuktikan dengan berpindah tugas dari Silosanen (Kab. Banyuwangi), Jember, Pasuruan, Pamekasan dan terakhir kembali di Jember hingga akhir hayatnya. Dan dalam empat kota kepindahtugasan tersebut lahirlah empat putra-putri yang luar biasa, saya adalah salah satunya.

Kembali ke soal loyalitas dalam bekerja. Tempat saya bekerja sebelumnya memiliki pimpinan (sebutlah bernama jumbet – bukan nama sebenarnya) yang oportunis, bisa dibilang cari muka dalam bekerja. Salah satu kalimat yang menyinggung perihal loyalitas saya adalah : “Dia orang Linux sama Mac, jangan dipercaya”. Dia berkata demikian ketika ada konsumen yang datang ke Conci dan sambil melet-melet kayak banyak eh guk-guk. Padahal selama bekerja di Conci, saya amat jarang membawa si Hacki (nama leptop saya) yang ber-OS Linux & Hackintosh ke Conci. Jika dihitung, kurang dari lima kali saya membawa si Hacki selama enam bulan saya bekerja di Conci. Dengan tidak membawa si Hacki, itu membuktikan bahwa saya menghormati dan menjunjung tinggi tempat saya bekerja. Namun cerita saya mengenai tempat kerja saya sebelumnya yang berlatarbelakang Open Source, diingat-ingat dan dipermasalahkan terus menerus oleh jumbet ini.

Selain oportunis, si jumbet ini anti apresiasi terhadap pendapat orang. Debat sengit antara saya dan jumbet terjadi ketika ada pameran komputer yang pihakConci ikut andil menjadi peserta pameran. Dan tololnya keikutsertaan Conci itu tanpa koordinasi, perencanaan dan biaya. FYI saja, pimpinan saya sebelum si jumbet ini yaitu si KR membutuhkan waktu 3-5 bulan untuk mempersiapkan segala keperluan dan kebutuhan pameran. Ketika saya berkata bahwa jamanya si KR bahwa untuk mempersiapkan pameran butuh waktu 3-5 bulan dia membalas “Sekarang bukan jamannya KR”.

Dia abai bahwa pameran adalah waktunya sebuah vendor memberikan penampilan terbaik dan tercantik untuk memajang setiap produknya. Bahkan menyewa Sales Promotion Girls adalah makhluk wajib yang ada dalam setiap pameran apapun. Dengan proyektor pinjam, laptop hang-ki sulaiman, terlihat bahwa Conci kere jancukan, padahal CEO duite turah-turah. Saya yang menjadi penjaga di stan pameran tersebut merasa seperti orang tolol setengah hidup. Dengan kepercayaan yang melebihi batas, saya menjawab setiap cemoohan dari tetangga vendor komputer, leptop, prosesor serta toko-toko yang berada di sebelah tempat saya menjaga pameran, bahwa ini hanya sneak peak dari launching di Surabaya.

Semenjak kejadian tersebut, saya enggan memulai percapakan bahkan membalas bebe emannya. Karena semua itu saya serahkan kepada @efahmi😆

ditulis di kantor baru (karena lembur) yang tidak pernah membicarakan masa lalu, disiplin ilmu dan anaknya siapa. Karena itulah yang namanya tim, saling membantu dan mendukung satu sama lain. MERDEKAAAAAA

Tagged: ,

§ 2 Responses to Mempersoalkan Loyalitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mempersoalkan Loyalitas at bukaningrat ™.

meta

%d bloggers like this: